Pelaksanaan Rukyah Pada Siang Hari
Nama : Faiz Ahmad Maftuh
NIM : 1702046033
Pelaksanaan Rukyah Pada Siang Hari, Cahaya bulan pada awal bualn sangat lemah taou legart bisa menyaksikan, dan hanya bisa disaksikan saat ijma’. Bagaimana tanggapan kita mengenai hal tersebut ?
Pada umumnya pelaksanaan Rukyah itu pada waktu malam hari untuk melihat pergerakan bulan dan pergerakan benda benda langit yang ada dilangit hal itu untuk memudahkan seorang astronom untuk melihat dan meneiti waktu, pergerakan bulan, pergerakan benda langit dan masih banyak lagi yang bisa kita amati disaaat waktu malam, akan tetapi pertanyaan diatas membuat kita untuk memutar otak kembali apakah rukyah pada siang hari itu bisa dilaksanakan dan bagaimana tanggapan dari Legart mengenai Cahaya Bulan pada awal bulan sangat lemah dan ia dapat menyaksikan, dan hanya bisa disaksikan saat ijma. Dalam Skripsi STUDI ANALISIS METODE THIERRY LEGAULT TENTANG RU’YAH QABLA AL-GHURŪB karangan dari MUHAMMAD SHOBARUDDIN, dalam skripsinya dijelaskan mengenai pelaksanaan Rukyah Hilal dan disitu juga diterangkan mengenai kriteria dan teori yang tepat untuk melaksanakan Rukyah dan juga kita harus memerhatikan beberapa faktor antara lain Tempat Observasi, Iklim, Posisi benda langit, Penunjuk waktu, Cahaya Bulan Sabit, Observasi bulan sabit, Batas Visibilitas Bulan, dan Metode Observasi.
Tempat Observasi
Pada dasarnya tempat yang baik untuk mengadakan Ru‟yah Hilāl awal bulan Qamariyah adalah tempat yang memungkinkan pengamat dapat mengadakan observasi di sekitar tempat terbenamnya matahari. Pandangan pada arah itu, sebaiknya tidak terganggu, sehingga horison akan terlihat lurud pada daerah yang mempunyai azimuth 240º s.d. 300º. Daerah itu diperlukan terutma jika observasi Bulan dilakukan sepanjang musim dengan mempertimbangkan pergeseran Matahari dan Bulan dari waktu ke waktu.
Iklim
Apabila pengamatan yang teratur dilakukan, maka tempat itu pun harus memiliki iklim yang baik untuk pengamatan. Pada awal bulan cahaya Bulan sabit demikian tipisnya, sehingga hampir sama terangnya dengan cahaya senja langit. Adanya awan yang tipis itu pun sudah akan menyulitkan pengamatan Bulan itu. Setidak-tidaknya, bersihnya langit dari awan, pengotoran udara maupun cahaya kota di sekitar arah terbenamnya Matahari merupakan persyaratan tang sangat penting untuk dapat melakukan observasi pada suatu saat tertentu.
Posisi Benda Langit
Hal ini adalah satu hal yang semestinya sudah diketahui sebelum melakukan pengamatan pada saat terbenamnya Matahari. Letak Bulan itu dinyatakan oleh perbedaan ketinggiannya dengan Matahari dan selisih azimuth diantara keduanya. Jadi ketinggian Hilāl saja belum memberikan informasi yang lengkap tentang letak bulan. Hal itu disebabkan oleh letak bulan yang dapat bervariasi dari 0º sampai sekitar 5º dari Matahari ke arah Utara atau Selatan. Selisih azimuth diantara Matahari dan Bulan dinyatakan dengan Bila harga itu positif (+) menunjukkan Bulan di sebelah Utara Matahari dan apabila harga itu negatif (-) menunjukkan Bulan di sebelah Selatan Matahari.
Penunjuk Waktu
Pada dasarnya semua benda langit mempunyai pergerakan, baik pergerakannya sendiri ataupun pergerakan semu. Oleh sebab itu, kalau kita menyatakan letak benda langit, itu berarti kita menyatakan letak itu pada waktu tertentu. Dengan demikian seorang pengamat yang baik juga harus mempunyai penunjuk waktu yang baik pula. Hampir semua orang menggunakan jam, tetapi tidak setiap orang tahu bagaimana menepatkan jam itu dengan baik. Sebuah jam yang baik dalam satu hari hanya akan mempunyai kesalahan beberapa detik saja. Sifat ini dipunyai oleh jam kronograf78 dan jam yang memakai kristal kuarsa79 (memakai baterai).
Cahaya Bulan Sabit Bulan,
benda yang akan diamati adalah sebuah benda gelap yang tidak mempunyai cahaya sendiri. Yang biasa kita lihat dari Bumi adalah bagian Bulan yang disinari Matahari. Pada keadaan tertentu cahaya Bumi (juga pantulan cahaya Matahari) dapat pula terlihat di Bulan, memberikan kebulatan yang utuh. Pada saat awal Bulan pengamatan itu dilakukan pada waktu Matahari terbenam.
Observasi Bulan Sabit
Pengamatan Bulan sabit dapat dilakukan dengan dua macam cara. Cara pertama adalah observasi Hilāl, yaitu melihat Bulan pada umur yang paling muda sebagai pertanda awal bulan Qamariyah. Cara inilah yang dibahas pada tulisan ini. Cara kedua adalah observasi Bulan baru yang lebih ditekankan kepada pengamatan batas visibilitas Bulan baru. Pengamatan dengan cara yang kedua itu akan menyelidiki berapa umur atau posisi minimal sehingga Bulan sudah dapat dilihat. Karena masalah ini juga hal yang penting, maka batas visibilitas Bulan itu perlu diketahui.
Batas Visibilitas Bulan Pada tahun 1931 Andre Danjon sewaktu menjadi direktur Observatorium Strasbourg merasa tertarik untuk menyelidiki lengkungan sabit Bulan. Pada tanggal 13 Agustus dia melihat Bulan yang berumur 16 jam 12 menit sebelum konjungsi. Dengan teropong yang bergaris tengah 3 inci pada perbesaran 25 kali, sabitnya terlihat kurang dari seperempat lingkaran dan diperkirakan antara 75º s.d 80º dari ujung ke ujung. Pengamatan-pengamatan lain dan catatan lain juga menunjukkan persoalan yang sama, bahwa berkurangnya sabit itu semakin kecil sementara sudut Bulan-Matahari bertambah besar.
Metode Observasi
Metode observasi ini adalah cara observasi Hilāl tanpa memakai teropong. Peralatan yang dipakai adalah penunjuk waktu (jam), 85 Ibid., h.210-213 63 penunjuk arah/azimuth (kompas), dan penunjuk ketinggian benda langit. Sistem koordinat yang dipakai adalah sistem koordinat horison.
Faktor faktor diatas adalah beberapa faktor yang harus kita pertimbangan sebelum pelaksanaan Rukyatul Hilal mengenani waktu, pergerakan benda langit dan lain-lain menjadi pertimbangan lagi malaksanakan rukyah, dalam kasus ini pelaksanaan Rukyah pada siang hari juga memungkinkan apabila semua faktor-faktor yang diatas bisa membantu dalam penentuan Pelaksanaan Rukyah tersebut.
Nama : Faiz Ahmad Maftuh
NIM : 1702046033
Pelaksanaan Rukyah Pada Siang Hari, Cahaya bulan pada awal bualn sangat lemah taou legart bisa menyaksikan, dan hanya bisa disaksikan saat ijma’. Bagaimana tanggapan kita mengenai hal tersebut ?
Pada umumnya pelaksanaan Rukyah itu pada waktu malam hari untuk melihat pergerakan bulan dan pergerakan benda benda langit yang ada dilangit hal itu untuk memudahkan seorang astronom untuk melihat dan meneiti waktu, pergerakan bulan, pergerakan benda langit dan masih banyak lagi yang bisa kita amati disaaat waktu malam, akan tetapi pertanyaan diatas membuat kita untuk memutar otak kembali apakah rukyah pada siang hari itu bisa dilaksanakan dan bagaimana tanggapan dari Legart mengenai Cahaya Bulan pada awal bulan sangat lemah dan ia dapat menyaksikan, dan hanya bisa disaksikan saat ijma. Dalam Skripsi STUDI ANALISIS METODE THIERRY LEGAULT TENTANG RU’YAH QABLA AL-GHURŪB karangan dari MUHAMMAD SHOBARUDDIN, dalam skripsinya dijelaskan mengenai pelaksanaan Rukyah Hilal dan disitu juga diterangkan mengenai kriteria dan teori yang tepat untuk melaksanakan Rukyah dan juga kita harus memerhatikan beberapa faktor antara lain Tempat Observasi, Iklim, Posisi benda langit, Penunjuk waktu, Cahaya Bulan Sabit, Observasi bulan sabit, Batas Visibilitas Bulan, dan Metode Observasi.
Tempat Observasi
Pada dasarnya tempat yang baik untuk mengadakan Ru‟yah Hilāl awal bulan Qamariyah adalah tempat yang memungkinkan pengamat dapat mengadakan observasi di sekitar tempat terbenamnya matahari. Pandangan pada arah itu, sebaiknya tidak terganggu, sehingga horison akan terlihat lurud pada daerah yang mempunyai azimuth 240º s.d. 300º. Daerah itu diperlukan terutma jika observasi Bulan dilakukan sepanjang musim dengan mempertimbangkan pergeseran Matahari dan Bulan dari waktu ke waktu.
Iklim
Apabila pengamatan yang teratur dilakukan, maka tempat itu pun harus memiliki iklim yang baik untuk pengamatan. Pada awal bulan cahaya Bulan sabit demikian tipisnya, sehingga hampir sama terangnya dengan cahaya senja langit. Adanya awan yang tipis itu pun sudah akan menyulitkan pengamatan Bulan itu. Setidak-tidaknya, bersihnya langit dari awan, pengotoran udara maupun cahaya kota di sekitar arah terbenamnya Matahari merupakan persyaratan tang sangat penting untuk dapat melakukan observasi pada suatu saat tertentu.
Posisi Benda Langit
Hal ini adalah satu hal yang semestinya sudah diketahui sebelum melakukan pengamatan pada saat terbenamnya Matahari. Letak Bulan itu dinyatakan oleh perbedaan ketinggiannya dengan Matahari dan selisih azimuth diantara keduanya. Jadi ketinggian Hilāl saja belum memberikan informasi yang lengkap tentang letak bulan. Hal itu disebabkan oleh letak bulan yang dapat bervariasi dari 0º sampai sekitar 5º dari Matahari ke arah Utara atau Selatan. Selisih azimuth diantara Matahari dan Bulan dinyatakan dengan Bila harga itu positif (+) menunjukkan Bulan di sebelah Utara Matahari dan apabila harga itu negatif (-) menunjukkan Bulan di sebelah Selatan Matahari.
Penunjuk Waktu
Pada dasarnya semua benda langit mempunyai pergerakan, baik pergerakannya sendiri ataupun pergerakan semu. Oleh sebab itu, kalau kita menyatakan letak benda langit, itu berarti kita menyatakan letak itu pada waktu tertentu. Dengan demikian seorang pengamat yang baik juga harus mempunyai penunjuk waktu yang baik pula. Hampir semua orang menggunakan jam, tetapi tidak setiap orang tahu bagaimana menepatkan jam itu dengan baik. Sebuah jam yang baik dalam satu hari hanya akan mempunyai kesalahan beberapa detik saja. Sifat ini dipunyai oleh jam kronograf78 dan jam yang memakai kristal kuarsa79 (memakai baterai).
Cahaya Bulan Sabit Bulan,
benda yang akan diamati adalah sebuah benda gelap yang tidak mempunyai cahaya sendiri. Yang biasa kita lihat dari Bumi adalah bagian Bulan yang disinari Matahari. Pada keadaan tertentu cahaya Bumi (juga pantulan cahaya Matahari) dapat pula terlihat di Bulan, memberikan kebulatan yang utuh. Pada saat awal Bulan pengamatan itu dilakukan pada waktu Matahari terbenam.
Observasi Bulan Sabit
Pengamatan Bulan sabit dapat dilakukan dengan dua macam cara. Cara pertama adalah observasi Hilāl, yaitu melihat Bulan pada umur yang paling muda sebagai pertanda awal bulan Qamariyah. Cara inilah yang dibahas pada tulisan ini. Cara kedua adalah observasi Bulan baru yang lebih ditekankan kepada pengamatan batas visibilitas Bulan baru. Pengamatan dengan cara yang kedua itu akan menyelidiki berapa umur atau posisi minimal sehingga Bulan sudah dapat dilihat. Karena masalah ini juga hal yang penting, maka batas visibilitas Bulan itu perlu diketahui.
Batas Visibilitas Bulan Pada tahun 1931 Andre Danjon sewaktu menjadi direktur Observatorium Strasbourg merasa tertarik untuk menyelidiki lengkungan sabit Bulan. Pada tanggal 13 Agustus dia melihat Bulan yang berumur 16 jam 12 menit sebelum konjungsi. Dengan teropong yang bergaris tengah 3 inci pada perbesaran 25 kali, sabitnya terlihat kurang dari seperempat lingkaran dan diperkirakan antara 75º s.d 80º dari ujung ke ujung. Pengamatan-pengamatan lain dan catatan lain juga menunjukkan persoalan yang sama, bahwa berkurangnya sabit itu semakin kecil sementara sudut Bulan-Matahari bertambah besar.
Metode Observasi
Metode observasi ini adalah cara observasi Hilāl tanpa memakai teropong. Peralatan yang dipakai adalah penunjuk waktu (jam), 85 Ibid., h.210-213 63 penunjuk arah/azimuth (kompas), dan penunjuk ketinggian benda langit. Sistem koordinat yang dipakai adalah sistem koordinat horison.
Faktor faktor diatas adalah beberapa faktor yang harus kita pertimbangan sebelum pelaksanaan Rukyatul Hilal mengenani waktu, pergerakan benda langit dan lain-lain menjadi pertimbangan lagi malaksanakan rukyah, dalam kasus ini pelaksanaan Rukyah pada siang hari juga memungkinkan apabila semua faktor-faktor yang diatas bisa membantu dalam penentuan Pelaksanaan Rukyah tersebut.


0 Komentar