Bagaimana cara penentuan arah utara sejati menggunakan Istiwa’aini?

Recent Posts

Bagaimana cara penentuan arah utara sejati menggunakan Istiwa’aini?

BAB I
   PENDAHULUAN
Latar Belakang
Alat non-optik yang digunakan dalam kajian Ilmu Falak terdapat berbagai jenis. Namun, dalam pembahasan kali ini akan terfokus mengenai pengunaan alat Istiwa’aini. Semua alat non-optik hampir memiliki fungsi yang sama, akan tetapi masing-masing dari alat tersebut memiliki ciri khas dan metode tersendiri dalam penggunaannya.
Istiwa’ini sendiri mempunyai ciri khas, yaitu dua tongkatnya dalam bidang dial. Dengan menggunakan konsep kerja yang sama dengan metode alat theodolite.
Istiwa’aini juga memiliki banyak fungsi dalam kajian Ilmu Falak. Salah satu diantaranya adalah penentuan arah utara sejati (true north). Arah utara sejati menjadi sangat penting dalam Ilmu Falak karena akan berkaitan penentuan arah kiblat.
Selain itu, akan coba dijelaskan juga mengenai apa pengertian arah utara sejati, karena muncul banyak anggapan bahwa utara sejati dengan arah utara yang sering disebut oleh kebanyakan orang itu sama.
Rumusan Masalah
Apa definisi dan sejarah Istiwa’aini ?
Apa saja komponen Istiwa’aini ?
Apa pengertian arah utara sejati?
Bagaimana cara penentuan arah utara sejati menggunakan Istiwa’aini?





BAB II
PEMBAHASAN
Definisi dan Sejarah Istiwaaini
Modifikasi dari sundial dan tongkat istiwa’ ternyata tidak hanya satu versi. Ada banyak versi dari hasil modifikasi tersebut, diantaranya adalah Istiwaaini. Dalam hal ini Istiwa’aini memiliki ciri khusus yang membedakan dengan alat-alat sebelumnya, yaitu gnomon yang digunakan berjumlah dua. Satu ditempatkan di pusat bidang dial seperti juga mizwala, satu gnomon yang lainnya di tempatkan di skala 0 bidang dial.
Istiwa’aini merupakan sebuah instrumen karya K. H Slamet Hambali pada tahun 2014 dan merupakan inovasi dari penelitiannya tentang arah kiblat yang telah dibukukan dalam karya berjudul “Ilmu Falak Arah Kiblat Setiap Saat”. Beliau adalah seorang ahli falak berkaliber nasional dari UIN Walisongo Semarang dan dikenal sebagai “kalkulator berjalan” karena keahliannya dalam menghitung falak tanpa kalkulator.
Alat ini dinamakan Istiwaaini karena di komponen utamanya adalah dua tingkat istiwa’. Tongkat istiwa’ yang pertama berada pada lingkaran titik 0˚, dan tongkat istiwa’ yang kedua berada di titik pusat lingkaran. Alat ini didesain untuk menggantikan theodolit dalam penentuan arah kiblat, menentukan arah utara sejati, menghitung tinggi Matahari dan menentukan waktu.
 Istiwa’aini adalah kata tasniyah dari kata istiwak. Yang artinya keadaan lurus yaitu sebuah tongkat yang berdiri tegak lurus. Istiwa’aini sebuah alat sederhana yang terdiri dari dua tongkat istiwak. Walaupun tergolong alat yang sederhana, namun akurasinya tidaklah kalah dari hasil pengukuran menggunakan alat yang modern seperti Theodolit. Alat ini juga mudah diaplikasikan dan praktis.
Komponen Istiwa’aini
1. Dua tongkat istiwak
Istiwaaini memeliki dua tongkat yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Satu tongkat di tempatkan di titik pusat lingkaran dan satunya lagi di tempatkan di lingkaran pada titik 0˚. Tongkat yang berada pada titik 0˚ berfungsi sebagai kamera pembidik untuk mendapatkan posisi Matahari melalui bayangannya serta tempat dimulainya pengukuran arah kiblat, utara sejati, dsb. Sedangkat tongkat yang terletak di pusat lingkaran berfungsi sebagai acuan sudut dalam lingkaran dan acuan benang sebagai petunjuknya dalam penentuan arah.
2. Lingakaran Dasar Istiwak
Yaitu alas untuk tongkat istiwak yang berbentuk lingkaran. Bidang lingkaran ini berfungsi sebagai penangkap bayang-bayang Matahari yang dihasilkan dari tongkat istiwak. Pada titik pusat lingkaran terdapat lubang untuk tempat tongkat istiwak sebagai acuan sudut dan titik nol derajat.
3. Alas untuk lingkaran dasar tongkat istiwak
Istiwa’aini juga dilengkapi dengan tripot yang berada di bawah lingkaran dasar tongkat istiwak. Alat ini berbentuk alas yang ditumpangi oleh lingkaran dasar dan pinggirnya diberi 3 skrup. Bagian ini berfungsi sebagai tripod yang dapat diputar untuk menaikkan atau menurunkan alas juga lingkaran dasar. Pemasangan alas ini harus benar-benar datar (horizontal) agar hasil yang diperoleh akurat.



4. Benang
Benang ini berfungsi sebagai penanda sehinggga memudahkan terhadap arah yang sedang dicari.
Fungsi Isitwaaini
1. Menentukan Arah Kiblat;
2. Menentukan Utara Sejati;
3. Menghitung Tinggi Matahari;
4. Menentukan waktu.
Konsep Trigonometri
Istiwaaini didesain dengan menggunakan sistem kerja  Theodolit. Oleh karena itu, konsep trigonometri istiwaaini sama dengan konsep trigonimetri pada Theodolit, yakni dengan membidik Matahari.
Secara konsep, istiwa’aini membidik Matahari melalui bayangan gnomon untuk mengetahui posisi Matahari (Azimuth Matahari) pada saat  pembidikan. Dengan begitu, maka arah empat mata angin dia atas muka bumi dapat diketahui.
Pengertian Utara Sejati
Arah ke kutub utara dari titik mana pun yang ada dipermukaan Bumi disebut utara, tetapi bisa juga menyebutnya dengan istilah arah utara. Mencari arah utara bisa dengan engan kompas, namun harus diperhatikan bahwa jarum kopas hanya menunjuk ke Kutub Utara magnet bukan Kutub Utara geografik.
Utara sejati atau utara geografik adalah utara yang berimpit dengan garis meridian, dan menunjuk ke Kutub Utara geografik yang dilalui sumbu Bumi. Utara geografik diberi label true north diartikan sebagai utara berdasarkan sumbu Bumi, bukan utara magnet.

Terdapat 3 jenis arah utara yang sering digunakan dalam peta, yaitu:
Utara magnetik, yaitu utara yang menunjukkan kutub magnetik;
Utara sejati, yaitu utara yang menunjukkan utara arah meridian;
Utara grid, yaitu utara yang berupa garis tegak lurus pada garis horizontal pada peta.
Penggunaan Istiwa’aini dalam Penentuan Utara Sejati
Untuk menentukan arah utara sejati, yang diperlukan adalah data azimuth Matahari. Dengan mengetahu Azimuth Matahari pada jam pengukuran, dengan memutar lingkaran dasar istiwak sehingga bayangan yang dibentuk oleh tonglat istiwak sesuia dengan azimuth matahari. Maka akan diketahui arah empat mata angin di bumi. Dimana titik 0˚ adalah arah utara, 90˚ arah timur, 180˚ arah selatan, dan 270˚ arah barat.
Persiapan pengukuran arah utara sejati menggunakan istiwa’ain.
Menyiapkan data lintang tempat dan bujur tempat.
Melakukan perhitungan, diantaranya adalah menghitung sudut waktu (t), arah Matahari (A˚), serta Azimuth Matahari (Az˚) untuk tempat yang bersangkutan.
Menyiapkan data astronomis “Ephimeris Hisab Rukyat 2019”.
Membawa penunjuk jam penunjuk waktu yang akurat.
Menyiapkan Istiwa’aini.
Pelaksanaan
Selanjutnya adalah melakukan perhitungan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan praktik di lapangan atau sudah mempersiapkan program perhitungan untuk memudahkan dan mepercepat pengamatan di lapangan. Data perhitungan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:

Data perhitungan 24 November 2019 pukul 10 : 32 WIB (BMKG), Markaz Masjid al- Muhajirin Bukit Walisongo.
e (equation  of time) =  0˚ 13’ 31”
Dek. Matahari (Ϭ) =  -20˚ 27’ 28”
Lintang Tempat (LT) = -6˚ 59’ 5,29
Bujur Daerah (BD) = 105˚
Bujur Tempat (BT) = 110˚ 21’ 28”
Pelaksanaan di lapangan
Persiapkan istiwa’aini di tempat yang terkena sinar Matahari;
Pastikan bidang dial istiwa’aini terpasang secara horizontal dengan diukur menggunakan waterpass;
Amatilah bayang-bayang Matahari, lalu putar bidang dial sehingga bayangan dari kedua tongkat tersebut sejajar (searah);
Catat waktu pada saat bayangan kedua tongkat itu sejajar;
Hitunglah Azimuth Matahari.
Proses perhitungan
1. Sudut Waktu
(t) = (WD + e – (BD – BT)/ 15-12)x 15)
= 12 + 13’ 31” – (105˚- 110˚ 21’ 28”)/ 15 – 12)x 15
= 8˚ 44’ 13”
2. Arah Matahari (A˚)
Cotan A = tan Dek. M x cos LT / sin t – sin LT / tan t
= tan -20˚ 27’ 28” x cos -6˚ 59’ 5,29 / sin 8˚ 44’ 13” – sin 6˚ 59’ 5,29 / tan 8˚ 44’ 13”
= -31˚ 17’ 1,52”

3. Azimuth Matahari (Az˚)
Waktu Pengukuran
Pagi
Deklinasi
Positif
Azimuth Matahari
= Arah Matahari

Pagi
Negatif
= 180˚ + A (-)

Sore
Negatif
= 180˚ - A (-)

Sore
Positif
= 360˚ - A

 
Az˚ = 180˚ + (-31˚ 17’ 1,52”)
= 148˚ 42’ 58,4”
Kemudian mencari utara sejati dengan cara 360˚ - Azimuth Matahari;
= 360˚ - 148˚ 42’ 58,4”
= 211˚ 17’ 1, 52”
Jika sudah ditemukan hasilnya, maka tariklah benang yang terpasang pada tongkat yang ditengah bidang dial ke arah angka sesuai dengan pehitungan tersebut.
Gambar dari hasil pengamatan


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Istiwa’aini sebuah alat sederhana yang terdiri dari dua tongkat istiwak
Utara sejati atau utara geografik adalah utara yang berimpit dengan garis meridian, dan menunjuk ke Kutub Utara geografik yang dilalui sumbu Bumi
Untuk menentukan arah utara sejati menggunakan Istiwa’aini adalah dengan menghitung selisih antara susdut titik utara sejati (360 ˚) dengan Azimuth Matahari.
Kritik dan Saran
Menyadari bahwasanya penulis masih jauh dari kata sempurna. Penulis mengharap untuk para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini, agar kedepannya dapat menjadi lebih baik dalam menjelaskan dan membuat makalah atau yang lain sebagainya.














Daftar Pustaka
Khazin, Muhyiddin. 2004. Ilmu Falak Dalam Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Buana Pustaka.
Anam, Ahmad syaiful. 2015. Perangkat Rukyat Non Optik. Semarang: CV. Karya Abadi Jaya.
Qulub, Siti Tatmainul. 2017. Ilmu Falak: Dari Sejarah Ke Teori dan Aplikasi. Depok: PT. Raja Grafindo Persada
Eprints.walisongo.ac.id
Jam.bmkg.go.id

Posting Komentar

0 Komentar

close
REKOMENDASI BARANG MURAH