
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PUASA
Menurut bahasa Shiyam ‘puasa’ berarti menahan diri dari
sesuatu secara mutlak. Jika seseorang menahan diri dari berbicara atau makan
sehingga ia disebut shaim (pelaku
shiyam)
Allah SWT
berfirman :
Artinya : “ maka
makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia,
maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan
Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada
hari ini". “ (QS. Maryam (19):26)
Menurut istilah Syara’ Shiyam
berarti menahan diri dari semua perkara yang membatalkan puasa selama satu hari
penuh mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Definisi tersebut disetujui oleh
mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan mazhab Syafi’i dan Maliki menambahkan kata
dengan ‘niat’ pada akhir definisi niat tidak termasuk rukun puasa menurut
mazhab hanafi dan hambali sehingga tidak menjadi bagian dari definisi.[1]
B.
PENSYARIATAN PUASA DALAM ISLAM
Puasa itu di Fardlukan pada tahun kedua hari Hijrah. Rasulullah wafat
sesudah berpuasa Sembilan hari Ramadhan. Beliau membolehkan bagi orang sakit
dan bagi orang yang dalam perjalanan tidak berpuasa dengan wajib mengqadlainya
di waktu yang lain dan beliau membolehkan wanita yang sedang mengandung dan
yang sedang menyusui anak tidak berpuasa, dengan memberi fidyah.
Di antara petunjuk Rasulullah ialah tidak memasuki puasa Ramadhan melainkan
dengan nyata-nyata telah melihat bulan, atau dengan pensaksian seseorang yang
adil, apabila tidak terlihat bulan dan tidak ada pensaksian tentang telah ada
bulan, beliau menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari. Apabila dua saksi mengakui
melihat bulan sesudah keluar waktu hari raya, beliaupun berhari raya dan
mengerjakan sembahyang hari raya esok harinya. Beliau menyegerakan
berbuka dan beliau berbuka itu sebelum bersembahyang maghrib dengan beberapa biji kurma basah, kalau
tidak ada dengan beberapa biji kurma kering kalau tidak ada dengan beberapa
teguk air.
Beliau kadang-kadang berpuasa di dalam safarnya dan terkadang-kadang
berbuka. Dan beliau menyuruh para sahabat segera berbuka apabila mereka telah dekat kepada musuh. Dan
beliau tidak menjangkakan Masafah Safar dalam membolehkan
berbuka itu. Segala yang tersebut dalam kitab-kitab Fiqh tentang batas Safar
yang membolehkan berbuka dan Qashar sembahyang, adalah dari Ijtihad para
Fuqaha. Penduduk Mekkah bersembahyang safar, yakni qashar dan jama’ di Arafah
beserta Nabi, pada hal jaraknya Arafah dari Makkah, tidak sejarak jangka batas
yang diberikan oleh mereka. Para sahabat membuka puasanya dengan memulai Safar,
tidak menunggu lewat perkampungan . mereka mengkhabarkan bahwa demikian sunnah
Nabi.
Pernah Nabi memasuki waktu shubuh dalam keadaan berjunub. Maka beliaupun
mandi dan berpuasa, sebagaimana pernah beliau mencium isterinya dalam keadaan
berpuasa.[2]
C.
PUASA WAJIB, SUNNAH, dan HARAM
1.
Puasa
Wajib
Puasa wajib
seperti puasa Ramadhan, baik dilakukan pada waktunya maupun setelahnya dengan qadha,
puasa kafarah, dan puasa nadzar. Puasa tersebut telah disepakati ke fardhuannya
oleh para imam, meskipun sebagian ulama Mazhab Hanafi berbeda pendapat dalam
masalah puasa nadzar dengan berkata puasa tersebut adalah waib, bukan fardhu
2.
Puasa
Sunnah
·
Puasa
Pada Hari Arafah
Disunnahkan
berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah atau arafah bagi orang yang tidak sedang
melakukan ibadah haji. Bagi orang yang sedang melakukan haji maka menurut
Madzhab Hanafi dimakruhkan jika puasa membuatnya lemah. Begitu juga puasa pada
hari tarwiyah, yaitu pada tanggal 8 Dzulhijjah.
Menurut Mazhab Hanbali, disunnahkan berpuasa pada hari Arafah
bagi orang yang melakukan haji, jika ia melakukan wukuf di Arafah pada malam
hari. Akan tetapi, jika melakukan wukuf pada siang hari, dimakruhkan baginya
puasa.
Menurut Mazhab Maliki, berpuasa pada hari Arafah dan Tarwiyah
bagi orang yang melakukan haji hukumnya makruh.
Adapun dalam pandangan Mazhab Syafi’I orang yang melakukan haji
dan bermukim di Mekah lalu pergi ke Arafah pada siang hari maka puasa pada hari
itu hukumnya khilaful aul. Namun, jika pergi ke Arafah pada malam hari, ia
diperbolehkan puasa. Bagi seorang musafir, disunnahkan tidak berpuasa secara
mutlak.
·
Puasa
Hari Senin dan Kamis
·
Puasa
Enam Hari di Hari Syawal
Disunnahkan berpuasa enam hari pada bulan
Syawal tanpa syarat apapun menurut Mazhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali. Adapun
berpuasa selama enam hari berturut-turut tanpa dipisah, menurut Mazhab Syafi’I
dan Hambali adalah lebih utama.
Menurut Mazhab Maliki, dimakruhkan puasa
enam hari pada bulan Syawal apabila terdapat hal-hal berikut : pertama, orang
yang berpuasa terasuk tokoh panutan, yang dikhawatirkan meyakini atau bahkan
telah meyakini wajibnya puasa ini. Kedua, puasa dilakukan langsung setelah hari
Raya Idul Fitri. Ketiga, puasa dilakukan berturut-turut. Keempat, Puasa
dilakukan secara terang-terangan.
Apabila dari keempat syarat tersebut ada yang
tidak terpenuhi, puasa tidak dimakruhkan, kecuali orang tersebut meyakini bahwa
menyambung enam hari tersebut dengan hari Idul Fitri adalah sunnah. Jika
demikian, puasa dimakruhkan meskipun tidak ditampakkan, atau dilakukan secara
terpisah-pisah harinya.
Menurut Mazhab
Hanafi, disunnahkan memisah-misah enam hari tersebut, misalnya setiap satu
minggu berpuasa dua hari.
3.
Puasa
Yang Diharamkan
Menurut Mazhab Maliki, haram berpuasa pada
hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan dua hari setelah Idul Adha, kecuali bagi
orang yang melakukan haji tamattu’ dan haji qiran. Bagi mereka, berpuasa pada
dua hari tersebut diperbolehkan. Adapun berpuasa pada hari keempat Idul Adha
hukumnya makruh.
Mazhab Syafi’I berpendapat bahwa berpuasa
pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari setelahnya walaupun dalam
haji hukumnya haram dan tidak sah.
Adapun menurut Mazhab Hambali, haram
berpuasa pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari setelahya, kecuali
bagi orang yang melakukan haji tamattu dan haji qiran.
Menurut Mazhab Hanafi, berpuasa pada hari raya Idul
Fitri, Idul Adha dan tiga hari tasyrik hukumnya makruh tahrim, kecuali dalam
haji.
Menurut Mazhab
Syafi’I dan Maliki, diharamkan puasa sunnah yang dilakukan oleh seorang wanita
tanpa izin dari suaminya, atau tanpa meyakini bahwa suaminya ridha jika ia
berpuasa, walaupun tidak memberi izin dengan jelas. Puasa tersebut diharamkan,
kecuali ketika suami tidak membutuhkannya, misalnya ia sedang pergi, sedang
ihram, atau sedang melakukan I’tikaf.
Menurut Mazhab Hanafi, puasa seorang wanita
tanpa seizin suaminya adalah makruh. Sedangkan menurut Mazhab Hambali, jika
suami ada, istri tidak boleh puasa tanpa izin suaminya salaupun suami sedang
tidak mungkin melakukan persetubuhan karena ihram, I’tikaf atau sakit.[3]
.D. SYARAT DAN RUKUN PUASA
1. Syarat Puasa
Orang-orang yang wajib melaksanakan puasa adalah:
a. Islam
b. Baligh
c. Berakal (tidak gila atau mabuk), lelaki atau
perempuan
d. Suci dari haid dan nifas bagi perempuan
e. Berada di kampong, tidak wajib bagi orang
musafir
f. Sanggup puasa, tidak wajib bagi orang yang sakit
dan orang yang lemah
Semua yang terdapat di
atas tersebut, merupakan syarat-syarat wajib puasa, bila terdapat pada
seseorang muslim syarat-syarat wajib ini, wajiblah ia berpuasa, dan berdosa
bila dia meninggalkannya.[4]
2.
Rukun
Puasa
Puasa hanya memiliki satu rukun menurut Mazhab Hanafi dan
Hambali, yaitu menahan diri dari semua perkara yang membatalkan puasa.
Dalam
Mazhab Maliki terjadi perbedaan pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat,
puasa memiliki dua rukun, yaitu menahan diri dan niat. Sementara itu, sebagian
yang lain menganggap bahwa niat adalah syarat, bukan rukun, sehingga puasa biasa
terwujud hanya dengan menahan diri.
Menurut
Mazhab Syafi’I, rukun puasa ada tiga,
yaitu menahan diri dari perkara yang membatalkan , niat, dan orang yang
berpuasa. Puasa tidak akan terwujud tanpa ketiga hal tersebut. Sementara itu,
menurut Mazhab Hambali dan Hanafi, niat dan orang yang berpuasa adalah syarat
yang keluar dari hakikat puasa, tetapi keduanya harus ada.[5]
E. HAL YANG
MEMBATALKAN PUASA
1.
Makan
dan Minum, walaupun itu bukan benda yang dapat di makan dan di minum,
2.
Bersetubuh,
baik melalui depan atau belakang,
3.
Onani,
baik dengan tangan maupun dengan ala,
4.
Sebagai
fukha mengatakan bahwa sengaja membuat kebohongan atas nama Allah,
5.
Membenamkan
kepada ke dalam air adalah membatalkan puasa,
6.
Memasukan
debu tebal ke dalam mulut, apapun macam debu itu,
7.
Di
antara hal-hal yang membatalkan puasa adalah injeksi,
8.
Sengaja
muntah , dan
9.
Tetap
dalam keadaan Janabah dengan sengaja sampi terbit Fajar tanpa unsur
keterpaksaan yang menyebabkan dalam keadaan demikian.[6]
F. HIKMAH DAN
FILOSOFI PUASA
·
Hikmah
§ Hikmah dalam segi
spiritual
1.
Membiasakan
orang yang berpuasa untuk bersabar
2.
Menguatkan
kesabarannya
3.
Mengajarkan
dan membantu pengendalian diri
4.
Memunculkan
sifat takwa dalam diri
§ Hikmah dalam segi sosial
1.
Membiasakan
umat islam teratur
2.
Bersatu
antar umat islam
3.
Berbuat
baik dengan sesama
4.
Melindungi
masyarakat dari keburukan dan kerusakan
§ Hikmah dalam segi
kesehatan
1.
Membersihkan
usus-usus
2.
Memperbaiki
lambung
3.
Membersihkan
badan dari kotoran-kotoran
4.
Meringankan
badan dari kegemukan
·
Filosofi
Tradisi puasa sebelum
diwajibakn untuk umat Islam, telah dilaksanakan oleh beberapa nabi terdahulu,
walaupun dengan model dan format yang berbeda,tetapi memiliki kesamaan yaitu
wajib bagi umat manusia.
Puasa selanjutnya harus
di pahami sebagai upaya membentuk ke shalehan individu dan kesalehan sosial.
Dengan berpuasa manusia dapat merasakan kaum miskin dan orang-orang
mustadz’ifin dalam kehidupan, merasakan penderitaan mereka .[7]
[1] Asmaji
Muchtar. 2016. Dialog Lintas Mazhab Fiqh
Ibadah & Muamalah. Amzah hal.
244
[2] Hasbi
Ash-Shiddieqy. 1952 .Kuliah Ibadah.Jakarta:Bulan Bintang hal. 202-204
[3] Asmaji
Muchtar. 2016. Dialog Lintas Mazhab Fiqh
Ibadah & Muamalah. Amzah hal.
246-248, 250-252
[5] Asmaji
Muchtar. 2016. Dialog Lintas Mazhab Fiqh
Ibadah & Muamalah. Amzah hal.
248-249
[6] Asmaji
Muchtar. 2016. Dialog Lintas Mazhab Fiqh
Ibadah & Muamalah. Amzah hal.
254-255
[7] http://infomakalahkuliah.blogspot.co.id/2012/10/lanjutan-puasa-hikmah-serta-filosofi.html diambil pada 10-10-2017 jam
23.03 WIB


0 Komentar