IMAN KEPADA TAKDIR DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN

Recent Posts

IMAN KEPADA TAKDIR DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
AA Iman kepada Qada dan Qadar adalah mengakui memeprcayai dan meyakini bahwa segala ketetapan dan takdir itu sudah ditentukan oleh Allah dan sudah ditulis di sebelum kita lahir didunia. Mengimani kepada Qadha dan Qadar wajib hukumnya. Mengingkari pada ketetapan dan takdir Allah sama saja mengingkari seluruh perbuatan-perbutan yang telah kita perbuat dan kita tidak memercayai bahwa Allah lah sang maha Pengatur segalanya, yang mengatur langit dan bumi.
Tetapi dalam kesempatan kali ini kelompok kami akan menyampaikan secara merinci seputar iman kepada qadha dan qadar Allah. Selain itu masih banyak pertanyaan dan masalah seputar qadha dan qadar Allah, yang menjadi pertimbangan besar dalam kehidupan sehari-hari kita dan yang sering kita pertanyakan adalah sesungguhnya takdir itu bisa kita rubah apa tidak, jika kita merubah takdir apakah kita menyalahi ketentuan iman kepada Qadha dan Qadar Allah. Dan apa yang dimaksud dengan takdir itu ?
Dimakalah kali ini kita akan membahas dan mendiskusikan tentang hal tersebut seputar takdir dan ketetapan serta tentang perbuatan-perbuatan di dunia ini. Serta mengetahui bagaimana  cara mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Qadha dan Qadar ?
2.      Bagaimana penjelasan tentang Iman Kepada Qada dan Qadar?
3.      Bagaimana cara mengimplementasikan Qada dan Qadar ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Qada’ dan Qadar
Al Qadha’ berarti memisahkan dan memutuskan. Kata ini sering disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah. Sementara arti Qadha’ asy syai an adalah menyempurnakan, melangsungkan, dan menyelesaikan sesuatu, sehingga di situ terkandung arti menciptakan.
Secara bahasa al-qadar bisa berarti ketetapan, keputusan, dan jumlah sesuatu. Adapun at-taqdirvvkata ini berarti menimbang serta memikirkan penyempurnaan sesuatu. Menurut istilah syariat, al-qadar berarti ketetapan yang didasarkan ilmu Allah dan dituliskan oleh al-Qalam (Pena) tentang segala urusan makhluk yang terjadi sepanjang masa.
Perihal perbedaan qadha dan qadar, terdapat dua pendapat yang dikemukakan para ulama Ahlus Sunnah. Pendapat pertama; al-qadha’ berarti ilmu terdahulu yang dengannya Allah menetapkan sesuatu sejak zaman azali, sedangkan al-qadar berarti terjadinya sesuatu (ciptaan-Nya) berdasarkan kadar sesuatu yang ditetapkan sebelumnya. Ibnu Hajar menyatakan: "Para ulama memaknai al-qadha dengan keputusan ilahi yang bersifat universal atau global, yang ditetapkan Allah sejak zaman azali. Adapun al-qadar mereka memahaminya sebagai bagian dan perincian dari keputusan atau ketetapan-Nya tersebut.
Pendapat kedua; al qadar berarti keputusan terdahulu, sedangkan al-qadha berarti penciptaan. Ini kebalikan dari pendapat pertama.  Ibnu Bathal berpendapat: "Al-Qadha’ adalah sesuatu yang telah ditetapkan atau diputuskan-Nya." Pendapat serupa dikemukakan oleh Imam al-Khathabi. "Al-Qadar adalah istilah Arab untuk memaknai segala sesuatu yang sebagai perbuatan Al-Qadir (Yang Mahakuasa). ditetapkan sebagai perbuatan Al Qadir.
B.     Iman Kepada Qadha’ dan Qadar
Iman terhadap takdir Allah dibangun atas empat rukun, Siapa yang mengakui semua rukun itu maka keimanannya dinyatakan sempurna. Adapun siapa yang tidak mengakui salah satu rukun itu, atau bahkan lebih, maka keimanannya menjadi cacat atau dinyatakan belum sempurna
Keempat rukun tersebut adalah (1) meyakini ilmu Allah yang mencakup atau meliputi segala sesuatu; (2) meyakini bahwa Allah menuliskan di Lauhul Mahfuzh semua hal yang terjadi sejak awal zaman hingga hari Kiamat; (3) meyakini kehendak Allah yang pasti terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna, sehingga yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjad; dan (4) meyakini bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk, tanpa ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan ini.
1.       Meyakini IImu Allah yang Meliputi Segala Sesuatu
Pokok keimanan yang agung ini banyak disebut dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Ya, ilmu Allah meliputi segalanya. Dia mengetahui apa-apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan yang belum terjadi, bahkan bagaimana semuanya terjadi. Dia juga mengetahui apa yang ada dan apa yang tidak ada, pun sesuatu yang bersifat mungkin dan yang bersifat mustahil.
2.      Meyakini Dituliskannya Seluruh Kejadian oleh Allah di Lauhul Mahfuzh
Berbagai nash syar'i, baik al-Qur-an maupun as-Sunnah, menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan semua urusan makhluk di Lauhul Mahfuzh. Dalam hadits yang tercantum dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dinukilkan: "Aku mendengar Rasulullah bersabda: Allah menetapkan takdir setiap makhluk sejak 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Beliau juga bersabda:Dan, Arsy-Nya berada di atas air.” Adapun at-Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dalam Sunan-nya dengan redaksi: "Allah menetapkan takdir-takdir (makhluk) sejak 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi."
3.      Meyakini Kehendak Allah yang Pasti Terlaksana dan Kekuasaan-Nya yang Menyeluruh
Prinsip ini menetapkan keimanan kepada kehendak Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Oleh sebab itu, apa pun yang Dia kehendaki pasti terj'ad. dan apa pun yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Tidak ada sesuatu yang bergerak atau diam baik di langit maupun di bumi melainkan atas dasar kehendak ilahiah. Tidak ada pula sesuatu yang terjadi dalam kerajaan-Nya selain dengan disertai kehendak tersebut.
Nash yang menegaskan rukun iman kepada takdir ini amat banyak. Di antaranya firman Allah: "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah .. (QS. At-Takwir [81]: 29)
4.      Meyakini Allah sebagai Pencipta Semua Makhluk
Tidak sedikit nash yang menetapkan bahwasanya Allah Pencipta segala sesuatu. Dialah yang mencipta, membentuk dan menghidupkan segenap makhluk. Dia adalah Sang Khalik, sedangkan selain-Nya adalah ciptaan.
Allah SWT berfirman: “Wahai manusial Bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari kerduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak . (QS. An-Nisa' [4]: 1)

C.    Perbuatan Manusia (Kasb)
1.      Kasb (perbuatan)
Quran mengungkapkan perbuatan manusia dengan menggunakan kata kasb dan kata-kata jadiannya. Bentuk-bentuk kata yang dipakai adalah suatu bentuk fi’il madhi mufarrad, (verba lampau simpel aktif); suatu bentuk fi’il madhi mazid (verba lampau tambahan aktif), satu bentuk fiil mudhari’ mufarrad (verba sedang simpel aktif).
Pemakaian kata kasb dalam quran hanya mengenal perbuatan manusia. Kata-kata yang digunakan semuanya dalam bentuk verba yang terdiri atas tiga bentuk verba tanpa memperhatikan kata ganti yang nyertai setiap kata.
Perbuatan-perbuatan manusia yang diterangkan dengan kata itu meliputi kebaikan dan kejelekanmyang tersebar 67 kali pemakaian dalam 60 ayat atau 27 surah.
Quran mengemukakan berbagai bentuk perbuatan. Bentuk-bentuk itu meliputi perbuatan manusia secara luas (baik dan buruk), kebaikan atau keburukan secara luas, kebaikan atau kejelekan tertentu. Acuan pengelompokan adalah melalui kata-kata atau tema pokok yang terdapat pada setiap ayat. Kalau ditemukan kesulitan dengan dua acuan itu, maka ditempuh pengkaitan ayat-ayat yang dibahas dengan ayat atau ayat-ayat sebelum, sesudah, atau dua-duanya. Penelurusan pengertian lewat pengertian yang dikemukakan para penafsir dimaksudkan sebagai pembantu untuk merumuskan pengertian yang utuh.
2.      Kata-kata yang searti dengan kasb
Al-fi’il (kerja)
Dalam al-Quran pemakaian kata fi’il dalam quran melibatkan berbagai pelaku (fa’il), yaitu Allah. Apa yang ada dilangit dan dibumi dan termasuk burung-burung disebut secara khusus dan manusia. Kesemuanya itu dapat ber-fi’il (bekerja).
Pemakaian kata fi’il yang khusus menerangkan pekerjaan manusia meliputi perbuatan manusia yang baik dan yang jelek, yang umum dan yang tertentu. Untuk itu kata tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yaitu maslah teologi, ibadah, moral, hubungan sosial kemasyarakatan, politik, kriminal, dan lain-lain. Pemakaian kata tersebut juga mengenal urusan kehidupan sehari-hari.  Misalnya, membujuk seseorang menyembelih, melakukan persaudaraan, membetulkan bangunan, menyangkut harta.
Al-a’mal (perbuatan)
Perbuatan-perbuatan a’mal yang dimaksud adalah semua pekerjaan yang dengannya manusia menghendaki kebahagiaan hidup. Hal itu tidak hanya menyangkut amal-amal ibadah. Kesia-siaan amal tidak pula hanya kepada amal-amal terakhir. Jadi, hal itu dapat mencangkup berbagai perbuatan manusia.
Dalam kehidupan dunia, perbuatan orang-orang (yang dinyatakan sia-sia amalnya) tetap bermanfaat. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipersembahkan olehnya tetap dirasakan kegunaanya oleh umat manusia, baik mukmin atau non mukmin. Bahkan orang mukmin memanfaatkannya dalam mensukseskan keimanan mereka. Alat-alat elektronik misalnya radio, televisi, dan komputer, dipergunakan untuk mengerjakan ajaran-ajaran teologi, hukum dan nilai-nilai islam lain. Dengan demikian kesia-sian yang dimaksud quran adalah bersangkutan dengan nilai keagamaan didunia dan pahala diakhirat dan berkaitan pula dengan ketaatan atau ketakwaan seseorang pada ajaran-ajaran-Nya.
Bahwa kita dapat menyimpulkan bahwa yang terlibat dallam amal adalah tuhan, malaikat, jin, setan dan manusia.
Al-sa’yu (berusaha)
Berusaha dengan sungguh-sungguh yang berlandaskan tidak saja pada kehidupan dunia, melainkan pada kehidupan akhirat pula (QS al-Isra/17:19). Pada ayat-ayat berikutnya disebutkan berbagai tingkah laku positif seperti menyembah hanya kepada Alllah SWT, berbuat baik pada orang tua, memberi hak kepada keluarga dekat, orang-orang miskin dan mereka yang pantas. Pada QS al-ihnsaan/76:22 disebutkan usaha manusia yang disyukuri (Allah). Dalam ayat-ayat  sebelumnya dikemukakan tentang menunaikan nazar. Takut pada Hari Pembalasan, dan memberi makan anak yatim dan orang miskin serta tahanan. Usaha-usaha tersebut dilakukannya tanpa harapan-harapan balasan dan penuh kesabaran. Pada QS al-Anbiyaa’/21:94 di kemukakan usaha itu seperti memperbuat kebaikan yang didasarkan pada iman, yang demikian tidak diingkari Tuhan sebab tercatat. Pada QS al-Ghassyiyah/88:9 dikemukakan bahwa disorga terdapat orang yang puas pada usahanya (di dunia) yang tercermin [ada wajahnya yang ceria.
Al-Shan (berbuat)
Quran menggunakan kata shun’ dan kata-kata jadiannya dengan melibatkan dua pelaku, Allah dan manusia. Jadi hanya Allah dan manusia mampu ber-shun (berbuat yang melibatkan daya cipta dalam peran masing-masing).
Al-iqtiraf (mengerjakan)
Quran dalam pemakaian kata iqtiraf (perkerjaaan atau oerbuatan). Melibatkan dua pelaku, yakni jin-setan dan manusia saja yang ber-iqtiraf. Hal itu sekaligus menunjukan kekhususan pemakaian kata tersebut karena keterbatasan pihak yang terkait dengannya. Disamping itu, kata tersebut digunakan quran sangat terbatas jumlahnya, yakni hanya terdapat empat kali pemakaian dalam empat ayat.
Khusus mengenai manusia, kata tersebut digunakan untuk menunjukan perbuatan baik secara umum, perbuatan jelek secara umum, perbuatan jelek tertentu, urusan harta.
Al-jarah (pekerjaan)
Salah satub kata yang digunakan quran dalam mengungkapkan pekerjaan manusia adalah kata jarah. Dalam Q.S al-an’am6:60, Allah menyebutkan bahwa dia menidurkan kalian manusia di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari . ., Rasyid Ridha menguraikan bahwa ma jarahtum menunjukan secara luas (muthlaq) kepada perbuatan (al-‘amal wa al-kasb) yang dilakukan manusia dengan uraian dalam buku lisan al’arabi yang menyebutkan bahwa kata jaraha benar-benar berarti kasb (perbuatan).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.      Sementara arti Qadha’ asy syai an adalah menyempurnakan, melangsungkan, dan menyelesaikan sesuatu, sehingga di situ terkandung arti menciptakan. al-qadar berarti ketetapan yang didasarkan ilmu Allah dan dituliskan oleh al-Qalam (Pena) tentang segala urusan makhluk yang terjadi sepanjang masa.
2.      al-qadha’ berarti ilmu terdahulu yang dengannya Allah menetapkan sesuatu sejak zaman azali, sedangkan al-qadar berarti terjadinya sesuatu (ciptaan-Nya) berdasarkan kadar sesuatu yang ditetapkan sebelumnya.
3.      Iman terhadap takdir Allah dibangun atas empat rukun. Keempat rukun tersebut adalah (1) meyakini ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu; (2) meyakini bahwa Allah menuliskan semuanya di Lauhul Mahfuzh; (3) meyakini kehendak Allah yang pasti terlaksana,; dan (4) meyakini bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk.

4.      Quran mengungkapkan perbuatan manusia dengan menggunakan kata kasb dan kata-kata jadiannya. Pemakaian kata kasb dalam quran hanya mengenal perbuatan manusia. Quran mengemukakan berbagai bentuk perbuatan. Bentuk-bentuk itu meliputi perbuatan manusia secara luas (baik dan buruk), kebaikan atau keburukan secara luas, kebaikan atau kejelekan tertentu.

Download

Posting Komentar

0 Komentar

close
REKOMENDASI BARANG MURAH